NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark

[LN] Tomodachi no Ushiro de Kossori Tewotsunaide - Volume 2 - Chapter 10 [IND]

 


Translator: Aldiwang 

Editor: Aldiwang 

Chapter 10 - Pernyataan 



 「Kami dari kelas 2-5 membuka kios ramalan.」

「Apakah kau ingin mencoba rumah hantu yang menakutkan~?」

Di mana-mana di gedung sekolah dipenuhi dengan hiruk pikuk yang menyenangkan.

Koridor sekolah yang biasanya sunyi kini berbeda. Semua didekorasi dengan indah dengan pita kertas dan poster, juga dipenuhi aroma saus yang lezat memenuhi udara.

──Kegiatan festival budaya.

Setelah mendengarkan perasaan Hinoko-chan, aku berusaha untuk tidak berduaan dengan Koga-kun sebisa mungkin sebelum hari itu tiba.

Aku benar-benar banyak berpikir sejak saat itu.

Menggunakan otakku yang kurang, aku hampir tidak tidur di malam hari, berpikir dan berpikir dengan putus asa.

Tentu saja, perasaanku pada Koga-kun tidak berubah barang satu milimeter pun.

Apa yang kupikirkan adalah bagaimana menyelesaikan cinta ini.

──Orang tidak bisa mendapatkan apa pun kecuali mereka kehilangan sesuatu. Itu adalah kepastian dunia ini.

Kata-kata yang dikatakan Hinoko-chan kepadaku sebelumnya benar-benar menyakitiku.

Karena aku sedang berusaha mendapatkan persahabatan dengan semua orang dan cinta dengan Koga-kun.

Namun di tengah rasa sakit itu, akhirnya aku menemukan jawabannya.

 Yahh, jawaban yang kutemukan sedikit berbeda.

Aku hanya melarikan diri sejak awal.

Ketika Hinoko-chan secara terbuka menyatakan 「Aku mencintai Koga-kun」 di depan kami, aku tidak bisa berkata apa-apa, jadi kupikir aku sudah kalah, ──── kurasa aku memang tidak bisa.

Cinta ini bukanlah sesuatu yang bisa kulepaskan begitu saja.

Aku akan membawakan lagu hanya untuk Koga-kun di panggung setelah festival hari ini.

Bagiku, itu adalah lagu ganti dari pernyataan cintaku. Aku akan mengantarkannya ke Koga-kun dengan sepenuh hati.

Jika perasaan itu sampai padanya... aku akan mencoba menyatakan perasaanku padanya.

Koga-kun adalah orang yang paling kucintai di dunia, jadi aku ingin menjadi kekasih sejatinya.

Daripada diam-diam berkencan, lebih baik jika aku jujur pada semua orang.

Tentu saja, Koga-kun tidak akan mennyetujuinya dengan mudah.

Meski begitu, jika perasaanku tersampaikan dengan baik melalui penampilanku, kurasa aku bisa memiliki secercah harapan.

Sampai sekarang, kami diam-diam dari semuanya dan melakukan banyak pertemuan rahasia.

Saat itu, aku mengetahui tentang perasaan Hinoko-chan.

Jika aku memberitahu semuanya tentang hubungan rahasia kita di sini sekarang, kupikir semua orang akan membenciku.

Tapi sekarang itu terjadi----aku tidak punya pilihan selain percaya.

Kami masih bisa berteman.

Itu adalah keputusan yang terlambat, tapi itu satu-satunya cara. Hinoko-chan, tentu saja, tetapi juga Seiran-kun dan Tanaka-kun, itu mungkin akan menjadi pernyataan yang akan ditunjukkan pada semua orang.

Meski begitu, aku tidak punya pilihan selain percaya bahwa kami masih bisa berteman.

Waktu yang kami habiskan bersama berlima sangat indah, dan aku yakin semua orang merasakan hal yang sama.

Itu sebabnya aku percaya pada kemungkinan meskipun sekecil apa pun. Aku akan menyampaikan perasaanku kepada Koga-kun dan membuatnya menerimanya, lalu kita akan menceritakan semuanya bersama.

Dengan kata lain, jawaban yang kudapatkan setelah semua kerja kerasku terlalu sederhana dan terlalu egois.

Jadi, 『Aku tidak ingin menyerah terhadap cinta atau teman sampai akhir』.

Yang tersisa sekarang adalah mengerahkan seluruh usahaku di panggung setelah festival.

Meski tak pantas kusebut sebagai pertempuran kecil, tapi paduan suara kelas kami baru saja berakhir tanpa hambatan.

Aku dapat menyelesaikan pengiring tanpa membuat satu kesalahan pun.

Sekarang aku yakin bisa tampil sempurna dengan penampilan band di panggung setelah festival.

Tapi aku ingin semua orang mengingat penampilanku.

Masih ada lebih dari empat jam tersisa sampai pesta penutupan festival, tapi aku menuju ke ruang persiapan musik dengan gitar elektrik favoritku di punggungku untuk berlatih sendiri.

「Ah, Narushima-san.」

Aku bertemu Tanaka-kun saat aku berjalan melewati lorong yang ramai dengan suara ceria.

Dia memakai ban lengan Komite Eksekutif Festival Budaya di lengannya. Karena ini adalah hari festival sekolah, anggota komite eksekutif, Tanaka-kun, memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan, jadi dia tidak bisa meluangkan waktu untuk melihat-lihat.

「Kudengar kau akan berlatih dengan band sendirian sampai festival malam. Padahal masih ada waktu, jadi kurasa tak masalah jika kalian berkeliling bersama. Lagipula, kau tak akan kemana-mana kan?」

「Ahaha... sekarang, aku sedang tidak ingin bermain...」

Paduan suara kelas kami dijadwalkan untuk jam terakhir di pagi hari, jadi sebagian besar teman sekelasku sangat gugup sehingga mereka diam di kelas sampai saat itu.

Kemudian semua orang di kelas merencanakan serangan balik. Segera setelah pertunjukan paduan suara berakhir, semua orang di kelas meledak dalam hiruk pikuk festival sekolah.

Tentu saja, sama halnya dengan Koga-kun, Seiran-kun dan Hinoko-chan, sepertinya saat ini mereka bertiga sedang berkeliling. Mereka juga mengajakku, tapi aku menolak dengan sopan. Setelah makan bekal sendiri di ruang kelas yang kosong, hal itu berlanjut hingga saat ini.

「Begitu. Narushima-san juga mengalami kesulitan.」

「Uh-yeah, kita senasib. Um, kalau begitu... yah.」

Aku mencoba mengakhiri percakapan karena aku takut waktu latihanku terbuang sia-sia, tapi ──,

「Oh iya. Aku baru saja bertemu Junya. Ini membuatku tertawa terbahak-bahak.」

「Eh, apa? Ada cerita menarik tentang Koga-kun?」

──Aku mendesaknya untuk melanjutkan.

Tidak peduli seberapa terburu-buru diriku, itu masalah yang berbeda jika ada yang mengangkat topik yang melibatkan nama itu.

「Saat aku melewati maid cafe dari di kelas 3 barusan, Junya baru saja berlari sambil menangis. Tampaknya dia mencoba menu super pedas di cafe itu, dan dia berkata, 」Itu senjata gas air mata! 」

「Ahaha, sampai sebegitunya? Koga-kun tidak bisa makan makanan pedas. Dia benar-benar seperti anak kecil.」

「Padahal dia tak kuat makanan pedas, tapi dia tetap mencobanya. Aku kasihan padanya karena hidungnya sampai meler dan belepotan. Seiran, yang berada di sebelahku, tertawa geli dan mengambil gambar dengan smartphone-nya. Junya yang menangis tapi dia masih bisa berpose di gambar itu.」

「Ahaha! Koga-kun, hidungmu benar-benar meler. Lalu, kau tahu? 」

「Hehe, dan bahkan Asagiri-san────」

「Ah, maaf Narushima-san. Aku harus segera pergi.」

Tanaka-kun memeriksa waktu di ponselnya.

Sepertinya aku menahannya lebih dari lima menit. Aku benar-benar merasa tak enak padanya.

「Uh, maaf ya aku mengajakmu ngobrl padahal sedang sibuk. Terima kasih atas pembicaraan yang menyenangkan. Semangat dengan pekerjaanmu di komite eksekutif.」

Aku menepuk pundak Tanaka dan mencoba melihatnya pergi dengan senyuman.

Tapi Tanaka-kun masih tidak bergerak dan menatap kosong ke wajahku.

「Ada apa? Kau tidak pergi?」

「Tidak, uhm...bagaimana mengatakannya...Aku sudah memikirkan hal ini untuk sementara waktu, tapi hari ini Narushima-san...」

「Ya?」

「Sepertinya, perasaanmu sedikit lebih cerah...」

「Nfufu. Begitu kah?」

Aku menyadari itu. Sebelum latihan terakhir, aku bisa mendengarkan banyak cerita menarik tentang Koga-kun, dan itu membuat suasana hatiku lebih baik karena kegugupanku berkurang.

「Ya ... kau terlihat lebih cerah dari biasanya ---, haha, apa sih yang kukatakan...」

「Hmm. Tapi sejujurnya aku senang mendengarmu mengatakan itu. Kalau begitu, tidak baik menahanmu disini terlalu lama, jadi aku pergi sekarang, oke? Sampai jumpa.」

Aku khawatir dengan Tanaka-kun yang tak kunjung pergi, aku berbalik.

「Ah iya, Narushima-san.」

Tanaka-kun memanggilku lagi.

「Junya dan yang lainnya juga bilang. Sebagai ganti karena kita tidak bisa pergi ke festival sekolah bersama hari ini, mari kita rayakan pesta ulang tahun yang besar untuk Narushima-san.」

「...Ya, terima kasih. Aku menantikannya.」

Tak lama setelah festival sekolah berakhir, hari ulang tahunku tiba. Aku akan bertambah dewasa.

Aku ingin tahu seperti apa hubungan kita berlima nantinya.

Kalau dipikir-pikir, ini sedikit... menakutkan.

Festival budaya akan berakhir pada pukul 16.30.

Para siswa bisa langsung pulang kerumah masing-masing, tapi kebanyakan masih tetap di sekolah.

Karena mulai jam 5 akan ada pesta penutupan yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Beberapa kios di luar gedung sekolah terus beroperasi, ada panggung band outdoor, dan pada akhirnya ada waktu tarian di sekitar api unggun────.

Ini seharusnya adalah acara untuk berkabung atas berakhirnya festival sekolah, tapi kesenangan sebenarnya baru akan dimulai.

Bagiku juga seperti itu.

Panggung luar ruangan khusus didirikan di tanah. Mulai sekarang, Seiran-kun dan Tokiwa-kun dari klub musik ringan akan berdiri di sana dan menampilkan hasil latihan kami.

Sekarang semua orang menghabiskan waktu tenang sebelum pertunjukan di tenda pemain di sebelah panggung.

「Apakah kau gugup, Narushima?」

「Uh, tidak. Aku cukup tenang, kurasa...」

Aku tersenyum pada Seiran-kun yang begitu perhatian.

Bahkan akupun terkejut karena aku begitu tenang saat ini. Ada begitu banyak siswa di kursi penonton yang aku lihat sebelum memasuki tenda pemain, tetapi meskipun demikian, aku tidak bergerak sama sekali.

Aku sangat senang karena Koga-kun akhirnya mendengar suaraku.

「Bahkan jika kau membuat kesalahan dan jari-jarimu berhenti, kau tidak perlu panik, oke? Kami akan membuatmu tetap terhubung sebanyak yang kau mau, jadi kau hanya perlu meluangkan waktu dan memulihkan diri.」

「Benar. Saat itu, aku, pembuka solo bass Chopper Tokiwa akan selalu membantumu. Narishima-san, kau tidak perlu khawatir dan teruslah membuat kesalahan. Oh tidak, tidak. Juga, jangan menahan diri~」

Vokalis bass band kami, Tokiwa-kun dari klub musik ringan, masih bersemangat.

Tapi aku yakin mereka peduli padaku, mereka berdua benar-benar meyakinkanku.

「Um... aku mungkin membuat kalian kerepotan, tapi tolong ya...」

「Tidak, kau tidak merepotkan kok. Sebaliknya, aku berterimakasih jika kau memberiku waktu untuk menonjol.」

「Leluconmu sangat buruk. Bisa-bisa aku mati karena itu.」

Seiran-kun terkejut dan berbisik ke telingaku.

「Selain Tokiwa, aku akan sangat mendukungmu, jadi jangan khawatir. Um... Narushima adalah satu-satunya sahabat dimana aku bisa menceritakan masalahku. Aku sangat senang dengan apa yang kau katakan.」

Saat itu Seiran-kun memberitahuku tentang kekhawatirannya, 'Aku mungkin aseksual.'

「Ya... aku benar-benar ingin berteman denganmu...」

Aku pikir begitu dari lubuk hatiku.

Karena empat orang ini, termasuk Seiran-kun, tidak tergantikan bagiku.

Bahkan jika aku mengungkapkan hubungan rahasiaku dengan Koga-kun, kuharap kita masih bisa berteman.

「Hei, kalian berdua. Kenapa kalian bicara bisik-bisik seperti itu... 」

Tokiwa-kun, yang ada di belakangku, memeluk bahuku Seiran-kun.

「Aku bosan menunggu giliran, jadi bagaimana kalau kita main kartu? Bagaimana dengan sesuatu seperti 'Pak tua tanpa joker' yang kubuat? Dengan aturan ini, kita bisa mainkan dalam satu jam. Hahaha.」

Entah mengapa, Tokiwa-kun terlihat lebih bersemangat dari biasanya.

Ada banyak anggota band siswa selain kami di tenda pemain, dan suasananya tegang. Tokiwa-kun, lebih dari siapa pun, tampaknya merupakan makhluk yang tidak mengenal ketegangan.

Kuyakin kau sangat menantikan agar bisa menunjukkan kepada pacarmu dengan bangga betapa kerennya dirimu.

Mungkin aku bisa mengerti perasaan itu, meski hanya sedikit saja. Fufu.

Termasuk kami, total ada lima band siswa yang tampil di panggung festival malam itu.

Kelima band tersebut memiliki jadwal dari pukul 05.00 hingga 06.40.

Menurut Tokiwa-kun, tidak ada satu pun anggota band yang berkumpul di tenda penampil yang merupakan anggota klub musik ringan.

Kami diperlakukan sebagai band klub musik ringan, jadi kami seharusnya menjadi penutup besar di atas panggung.

Jadi menurut jadwal, giliran kami dimulai sekitar pukul 6:20. Tentu saja, sampai saat itu, aku berencana untuk mendengarkan penampilan band lain sebagai hobi dan belajar.

Koga-kun baru saja menghubungiku. 「Aku diantara penonton」.

Ternyata dia sudah ada disini, dan Koga-kun berniat untuk melihat semua band. Kupikir Hinoko-chan mungkin bersamanya.

Ketika aku memeriksa waktu di smartphoneku, sudah hampir jam lima. Saatnya band pertama tampil di atas panggung.

Namun, tidak ada seorang pun di tenda pemain yang bergerak untuk naik ke atas panggung.

Seiran-kun sepertinya juga heran.

「Hei, sudah waktunya mulai mempersiapkan band pertama, kan?」

「Be-Begitukah...? Ada apa ya...?」

Tanaka-kun, anggota komite eksekutif festival sekolah, dan siswi lain yang tidak kukenal melompat ke dalam tenda.

「Maaf! Ada masalah!」

「Oh? Ada apa, Shintaro?」

Tanaka-kun, yang mengangguk sekali pada Seiran-kun, menatap ke semua pemain di tenda dan berkata.

「Kami seharusnya menjadi band pertama, tapi sepertinya ada cedera selama festival sekolah, jadi kami harus mengubah jadwal.」

Para anggota band yang berada di dalam tenda mulai berkata 「Eh?」

「Itu sebabnya aku ingin memajukan jadwal ... bagaimana menurut kalian?」

Tanaka-kun mengalihkan perhatiannya ke empat anak laki-laki di sebelah kami.

Menurut jadwal, mereka sepertinya adalah anggota band kedua.

「Tidak, tidak, tolong tunggu sebentar. Kalau tiba-tiba kau meminta begini... 」

「Itu benar. Aku harus mempersiapkan hatiku dulu...」

Band beranggotakan empat orang itu sudah sangat pucat.

Aku mengerti apa yang ia maksud dengan persiapan hati. Kami adalah sekelompok siswa amatir, bukan profesional. Apalagi jika ini adalah pengalaman pertama dalam hidupmu, wajar jika kau perlu banyak persiapan.

Tanaka-kun tahu soal itu, jadi dia tidak akan memaksanya. Aku memalingkan wajah khawatir ke gadis disebelahnya yang mengenakan ban lengan yang sama.

「Konishi-senpai, apa yang harus kita lakukan...?」

「Ah benar juga……」

Sepertinya siswi itu adalah Konishi-senpai, gadis yang disukai Tanaka-kun.

Rambut cokelatnya dikepang dengan pita, dan dia terkesan seperti onee-san. Gayanya bagus, dan kupikir Tanaka-kun adalah orang yang tidak terduga, yang membuatku sedikit tersenyum.

「Tamu juga sudah banyak yang berkumpul, jadi kita harus mengisi tempat ini... bagaimana jika kita membuat komedi?」

「Hei, ini bukan waktunya untuk berckau!」

Ah, dia orang yang menarik. Aku yakin itu hanya lelucon untuk melunakkan, tapi Tanaka-kun menemukan orang yang baik juga.

「Lalu sebagai gantinya, apakah ada band yang mau menjadi band pembuka untuk kita?」

kata Konishi-senpai. Yang seharusnya menjadi pembuka adalah band pertama. Namun band aslinya sudah mundur dan sulit untuk memajukan jadwalnya, sepertinya perlu untuk mengubah urutannya.

「Bisakah kami melakukannya dulu?」

Tokiwa-kun mengangkat tangannya.

「Eh!? Hei, tunggu sebentar...」

Tentu saja aku panik.

Sepertinya Koga-kun berada di tengah-tengah penonton, dan mentalku juga sudah siap. Lagipula meskipun tidak dimajukan jadwalnya, giliran kami akan tiba satu jam lagi.

Bagaimanapun, jika kami tampil sekarang... kurasa ini terlalu mendadak.

「Ooh, ada anak laki-laki penyelamat disini! Kalau begini, onee-san sangat menyukaimu, tapi...」

Mata Konishi-senpai tertuju padaku.

「Apakah teman disampingmu agak ketakutan?」

「Eh, eh... itu...」

「Tidak apa-apa, Narushima-san! Lagipula latihan terakhir kita ratingnya bintang 6 dari 5, bukan? Bukankah lebih baik jika kita melakukan pukulan pertama dan membuat panggung lebih meriah?」

Tokiwa-kun, yang sepertinya ingin pacarnya melihatnya, menampar lengan atasku.

「Band klub musik ringan ya… yah, ini mungkin pilihan bagus, tapi apakah Narushima-san baik-baik saja?」

Tanaka-kun menatapku dengan tatapan bersalah.

「Jangan khawatir tentang Tokiwa. Lagipula sejak awal, kami ini adalah burung」

Seiran-kun, yang sedang mengkhawatirkanku karena ketakutan, mengalihkan matanya pada Tokiwa-kun.

「Lagipula, bukankah kita ingin melakukan 'Pak tua tanpa joker'? Jadi ayo kita lakukan sambil bersenang-senang.」

「Ah? Apa yang lucu tentang itu? Apakah kau bodoh, Miyabuchi?」

「Itu terlalu bumerang ...」

「Pokoknya saat ini aku akan naik ke atas panggung. Lagipula tidak akan ada yang akan melakukannya kan?」

Seperti yang dikatakan Tokiwa-kun, meskipun kami berbicara seperti itu, band lain di tenda pemain bahkan tidak akan berkata, 「Kami ingin melakukannya terlebih dahulu.」

Itu sebabnya aku tidak punya pilihan selain mengatakan ini.

「... Aku mengerti. Ayo lakukan.」

「Yeah~! Seperti yang diharapkan dari Narushima-san! Hei kalian semua, kami akan membiarkan kalian mendengarkan suara asli kami, jadi apakah kalian siap membuat 'tempura' dari keringat kalian sendiri? Buhyahya!」

Tokiwa-kun bangkit dari kursinya dan pamer ke anggota band lain di tenda. Beberapa dari mereka adalah kakak kelas, tetapi mereka tidak takut.

……Tidak apa-apa, bukan? Lagipula Koga-kun bilang dia sudah berada di kursi penonton, kan?

Untuk berjaga-jaga, aku akan mengirim pesan melalui ponselku.

Yoru Narushima [Jadwal telah berubah dan kami akan berada di tahap pertama]

Yoru Narushima [Kau sudah menjadi penonton, kan? Gunjo Aoiro dari Tsuki to Herodias adalah lagu terakhir]

Yoru Narushima [Jika kau tidak mendengarkannya dengan baik, aku akan mematahkan tulang punggungmu nanti]

「Maaf, tapi kita tidak punya banyak waktu, jadi bisakah kalian segera mulai bersiap?」

Setelah mengangguk pada Tanaka-kun, Tokiwa-kun dan aku masing-masing mengambil gitar dan bass kami, dan Seiran-kun membawa stik drumnya sendiri, dan kami bertiga meninggalkan tenda pemain.

Tentu saja aku tidak bisa naik ke atas panggung dengan smartphone di tangan, jadi aku meninggalkannya di dalam tenda. Aku tidak bisa memastikan apakah pesan yang kukirim ke Koga-kun sudah dibaca atau belum.

Kami naik ke atas panggung dan mulai mendengarkan sorak-sorai penonton.

Kursi penonton yang menghadap ke panggung khusus yang didirikan di tanah dipenuhi dengan begitu banyak siswa sehingga tidak mungkin menemukan Koga-kun.

Langit terbuka hanyalah jam ajaib dengan gradasi indah nila pucat dan oranyhe cerah.

Pasangan yang menyatakan cinta mereka selama jam ajaib antara festival sekolah dan pesta sesudahnya pasti akan langgeng.

Aku tidak percaya pada legenda itu. Sebenarnya, band kita akan menjadi tkau dimulainya pesta.

Meski begitu, saat ini kupikir aku bisa menyampaikan perasaanku pada Koga-kun dengan tampil di waktu seperti ini.

...Lagipula aku sedikit senang.

Asagiri Hinoko berdiri sendirian di kelas 1-2.

Meskipun itu adalah ruang kelasnya yang familiar, ketika dia memikirkan tentang apa yang akan terjadi setelah ini, dia merasa sedikit tidak nyaman. Jadi dia bahkan tidak bisa duduk dan akhirnya hanya berdiri menunggu.

Gedung sekolah, yang semarak sampai sekarang, sangat sepi. Kecuali stan di luar, semua stan di gedung sudah tutup.

Dia dengan santai melihat ke luar jendela. Itu adalah halaman gedung sekolah, dan dia bisa melihat beberapa kios dan beberapa siswa.

Kau tidak dapat melihat lapangan dari gedung sekolah ini, tetapi panggung band akan dimulai di sana. Penampilan terakhir tidak boleh kau lewatkan. Karena saat itu, dua orang sahabatnya dijadwalkan berdiri di sana.

Dan segera seorang sahabatnya yang lain akan datang ke kelas ini.

────Junya Koga.

Sahabat laki-laki dalam hidup Hinoko.

Satu-satunya anak laki-laki yang tidak menyetujui hal itu, tapi akhirnya perasaannya padanya lebih dari itu.

Hinoko baru saja mengirim pesan melalui ponselnya. 「Aku akan menunggumu di kelas.」

Ia menjawabnya langsung. 「Apa yang terjadi? Aku akan segera kesana,」 katanya dengan nada ringan.

Matahari terbenam di awal November, bagian atas langit berwarna nila pucat, dan bagian bawah lebih cerah.

Pada waktu antara senja dan malam. Waktu yang paling indah hari ketika langit ajaib.

Jam ajaib cinta yang membentang hanya beberapa menit antara festival sekolah dan pesta setelahnya.

Meski dipanggil pada saat itu, Junya Koga mungkin tidak menyadari apapun. Berpikir bahwa ketidakpekaan semacam ini sangat khas dari dirinya, Hinoko hanya tersenyum.

Tapi yang paling membuatnya tertawa adalah dirinya sendiri.

Hinoko, yang selalu bergaul dengan laki-laki, seharusnya menertawakan legenda cinta yang diimpikan perempuan. Sangat lucu bahwa dia mencoba untuk percaya pada itu sekarang.

Tak lama, pintu kelas terbuka.

Junya Koga datang dengan senyumnya yang biasa.

「Maaf maaf. Aku terlambat karena aku dari lapangan.」

「Uh-huh. Aku minta maaf karena meneleponmu begitu tiba-tiba.」

Meski sebenarnya dia sangat gugup, Hinoko bisa tersenyum dengan alami.

Pada titik tertentu, tidak terlalu sulit untuk mengontrol ekspresi wajahnya.

...dia tidak bisa berbuat apa-apa tentang emosinya.

「Kita akan melihat panggung Narushima-san, bukan? Kita masih punya waktu lebih dari satu jam, apa yang harus kita lakukan?」

Bocah ini masih tidak mengerti mengapa dia dipanggil. Kemudian Hinoko menyadarinya. Bukannya dia hanya tidak peka, dia benar-benar menganggap dirinya sebagai sahabat.

Itu membuatnya senang, tapi juga membuatnya geram.

「Jadi sebab aku memanggil Koga-kun kesini...」

「ya?」

「Aku menyukai Koga-kun.」

「Oh. Tapi aku juga menyukai semua orang?」

──Pu.

Hinoko hanya bisa tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata lugu itu.

Aku jatuh cinta padanya karena dia orang seperti ini...

「Tidak, bukan seperti itu. Kubilang aku menyukai Koga-kun sebagai lawan jenis.」

Meskipun dia tidak berlatih, dia bisa menyampaikan semuanya tanpa ragu-ragu.

Dalam film romantis Jepang, adegan itu akan sedikit lebih dalam, tetapi bagi Hinoko, itu tidak lebih dari sebuah produksi film. Dan sutradara memutuskan bahwa tidak perlu mengarahkan adegan ini.

「…………eh?」

Junya terkejut betapa mulusnya itu karena dia tidak melakukan tambahan. Dia benar-benar kebingungan.

Reaksi ini seperti yang diharapkan Hinoko. Yang harus dia lakukan hanyalah melipatnya dengan senyuman.

「Aku suka Koga-kun. Dia anak yang sederhana seperti anak kecil, dan dia orang yang lembut yang selalu memikirkan teman-temannya terlebih dahulu. Dia memperlakukanku bukan sebagai wanita, tapi sebagai sahabat sejati. Karena Koga-kun yang seperti itu, membuatku jatuh cinta cinta padamu.」

「Tidak...itu...huh? Itu... apa kau sungguh mengatakan itu?」

「Ya, sudah jelas. Aku tidak tahu orang seperti apa yang mengatakan hal seperti ini hanya main-main.」

Samar-samar aku bisa mendengar band bermain dari jauh.

Itulah tanda dimulainya pesta. Hinoko mampu menyampaikan perasaannya bahkan sebelum dimulai. Tentu saja, dia tidak percaya begitu saja pada legenda cinta, dan dia sudah menghitung bahwa waktunya akan tertunda.

Itu sebabnya dia memilih ruang kelas yang tenang sebagai tempat pengakuan cintanya.

Di ruang kelas dengan jendela tertutup, suara band terdengar samar-samar.

Dan dalam situasi ini, baik Hinoko maupun Junya tidak punya waktu untuk mendengarkan lagu yang nyaris tidak sampai kepada mereka.

「Itu sebabnya, saat aku mengatakan bahwa aku ingin Koga-kun berkencan denganku, itu sangat berkebalikan dengan dirimu. Meski begitu, aku ingin memberitahumu.」

「Asagiri-san...kau menyukaiku...Hah? Tidak, tunggu sebentar.」

Tentu saja, Hinoko tidak akan menunggu. Dia mengatakan semua yang ingin dia katakan terlebih dahulu.

「Sebenarnya, aku sudah berbicara dengan semua orang tentang betapa aku menyukai Koga-kun.」

「Eh? Um, semuanya... maksudmu semuanya?」

「Ya. Tanaka-kun, Seiran-kun, dan Yoru.」

「Aku-a-ah, begitu kah. SAu mengerti. Um...Jadi, um, apa yang semuanya katakan?」

「Bahkan jika kita pacaran, mereka mengatakan bahwa kita berlima akan bermain bersama lagi—haha. Ah, aku belum mendengar jawaban darimu. Apa aku terlalu cepat? 」

Hinoko menggaruk kepalanya untuk mengejek diri sendiri. 

Bahkan, dia mengejek dirinya sendiri. Dia kagum pada dirinya sendiri karena bisa mengatakannya dengan mudah meskipun kata-katanya tidak akurat.

Lebih tepatnya, Bahkan jika kita akhirnya berkencan, mari kita bermain dengan kita berlima sesekali.

Tapi dia tidak repot-repot mengatakan itu.

Untuk Junya Koga, yang senang bersama kami berlima, dia memutuskan bahwa caranya mengatakannya pasti akan lebih efektif.

Hinoko berpikir bahwa dia pengecut.

Meskipun dia benci menjadi dewasa, apa yang dia lakukan adalah tipuan yang sama seperti yang dilakukan orang dewasa.

Pengecut dan menjijikkan.

Namun, Hinoko siap menggunakan segala cara kotor untuk mewujudkan cinta ini. Jika ada celah, dia akan memanfaatkannya.

「Tentu saja, jika Koga-kun dan aku menjadi sepasang kekasih, kurasa kita tidak akan bisa menjadi kita berlima seperti sebelumnya. Kurasa akan ada jarak tipis di antara kita.」

Dan kenyataan juga tercampur. Orang yang hanya menunjukkan impian akan cenderung lebih mudah goyah hatinya.

Dia sekali lagi berpikir bahwa dia tidak akan pernah bisa menjadi heroine seperti yang ada di film dan manga.

Apa yang baru saja dia katakan itu benar, tetapi juga mengandung perhitungan yang jelas.

Tapi menurutnya cinta tidak bisa dimulai tanpa perhitungan sejak awal.

Lebih dekat untuk menjadi teman, membicarakan hal yang sesuai dengan minat orang lain, cari tempat yang disukai dan ajak dia berkencan, kemudian berikan pengakuan sambil menjaga agar tidak dibuang. Semuanya sudah direncanakan.

Cinta selalu kotor. Tidak pernah indah. Sebaliknya, Hinoko berpikir bahwa cinta sejati adalah sesuatu yang ingin kau dapatkan meskipun kau menggunakan cara yang kotor.

「……Aku mengerti」

Jawaban Junya juga seperti yang diharapkan. Dia memperhitungkannya. Dan dia yakin Koga Junya akan menjawab pertanyaan selanjutnya dengan kata-kata yang diharapkannya.

「Apakah Koga-kun punya orang yang disukai sekarang?」

Tidak mungkin ada.

Hinoko yang sudah lama bersama mereka berlima mengetahui hal ini dengan sangat baik. Dia adalah tipe cowok yang lebih suka bergaul dengan teman-temannya daripada jatuh cinta. Itu sebabnya dia tidak punya orang yang disukainya.

Junya Koga pasti menjawab 「Tidak」 di sini. Dan langkah selanjutnya yang dia ambil adalah────,

「...Ada.」

「Eh!?」

Dia hanya bisa menahan napas. Ekspresi percaya diri untuk memanipulasinya dengan sempurna runtuh dalam sesaat.

Jawaban itu benar-benar tak terduga.

________? Koga-kun memiliki seseorang yang dia sukai...?

Dia sama sekali tidak berpura-pura, tapi sebelum dia menyadarinya, seseorang seperti itu ternyata ada...

「Um... Ah, haha. Begitu ya. begitu...」

Dengan senyum kaku, Hinoko segera pulih.

Dia tidak tahu siapa orang itu, tapi dia tidak akan memberikan pertanyaan yang tidak enak didengar seperti 「Orang seperti apa dia?」 di sini. Sejauh yang dia tahu, hal-hal tidak akan berubah. dia menyimpulkan bahwa pertanyaan seperti itu tidak ada artinya.

Apa yang ada di sini sekarang adalah fakta bahwa 「Koga Junya memiliki seseorang yang disukainya.」 Itu saja.

Hinoko segera mendapatkan kembali ketenangannya sedemikian rupa sehingga dia berpikir demikian.

Bagaimanapun, tak masalah jika dia tidak berkencan dengannya saat ini. Karena itu, tak masalah jika ia mengubah arahnya. Lagipula jika dia mundur saat ini, dia tidak akan menyatakan cintanya sejak awal.

Bagi Hinoko, kelompok lima orang itu sangat penting baginya, dan bahkan jika itu berarti menghancurkannya, dia ingin mengulurkan tangannya, dan karena itulah dia memutuskan untuk menyatakannya.

「... Aku tidak mengatakan aku ingin jawabannya sekarang, kau tahu?」

Dengan perasaan yang sangat murni, Hinoko berbicara.

「Bahkan jika tidak bisa, aku akan tetap menjadi teman yang sama seperti yang sekarang. Tidak, bahkan aku memohon padamu. Tolong biarkan aku terus menjadi temanmu. Itu sebabnya, Koga-kun, ketika kita sudah kelas dua nanti, maukah kau memberiku jawaban atas pengakuan ini?」 

Aku menatap lurus ke mata Junya dan mengatakan semuanya.

Wajahnya bingung untuk bagaimana menanggapi itu. Karena kesunyian yang mewarnai, suara band terdengar semakin keras. Tetap saja, itu tidak cukup untuk mengetahui lagu yang sedang dimainkan.

「... Yah, aku benar-benar senang dengan perasaan Asagiri-san...」

「Koga-kun memiliki seseorang yang dia suka.」

Hinoko tidak akan pernah membiarkannya melanjutkan.

「Tapi perasaanku, seperti yang kukatakan. Tidak apa-apa meski hanya sampai kita naik kelas dua. Tolong biarkan aku mencintaimu sampai saat itu... atau mungkin, jika aku membicarakan ini denganmu, kau bahkan tidak akan berteman denganku lagi...?」

Dia pikir itu benar-benar ungkapan pengecut dan licik.

Hanya ada satu jawaban untuk itu.

Itu tidak benar ──.

「Mungkin tidak mengapa」

Suara di hatinya dan suara Junya menyatu.

「Ahaha...itu bagus. Aku merasa sangat lega.」

Itu bohong.

Dia bahkan tidak khawatir sejak awal.

Jika itu Junya yang benar-benar peduli dengan teman-temannya, dia akan menjawab seperti itu. Dia mengerti.

Sejak kapan dia menjadi 'wanita dewasa' yang begitu licik? Pasti ada saat ketika dia merindukan romansa dengan seorang laki-laki dari dunia lain...

Hinoko belum pernah jatuh cinta sebelumnya.

Bagi Hinoko, yang selalu asing dengan lingkungan perempuan, satu-satunya teman yang berhubungan baik dengannya adalah laki-laki.

Dia ingin tetap berteman dengan anak laki-laki, dan ketika mereka menyatakan cinta kepadanya, dia sangat kecewa. Dia pernah mengutuk dirinya sendiri sebagai seorang wanita sambil menangis. Dia bertanya-tanya mengapa dia tidak dilahirkan sebagai laki-laki.

Itu sebabnya dia seharusnya tidak pernah jatuh cinta selama sisa hidupnya.

Dia bahkan berpikir akan lebih baik jika tidak ada jenis kelamin.

Namun, terkadang Tuhan memberikan bakat yang sama sekali berbeda dari jalan yang diinginkan orang tersebut.

Meskipun dia tidak pernah menjalin hubungan, dia jelas bukan penggemar cinta. Sebaliknya, hanya dapat dikatakan bahwa dia punya bakat alami untuk memikat pria dengan kata-kata yang cerdas.

Seorang jenius yang merebut cinta yang diinginkannya────.

Tanpa disadari, Hinoko memang memiliki bakat tersebut.

Dia percaya pada persahabatan yang melampaui batas antara pria dan wanita lebih dari siapa pun, dan dia seharusnya menginginkannya lebih dari siapa pun.

Bagi Hinoko yang membenci 「gender」 sebagai penghalang persahabatan, sungguh ironis.

Hinoko Asagiri dilahirkan untuk menjadi kuat dalam cinta, dan sejak awal dia lebih seperti 「wanita」 daripada orang lain.

「Pokoknya, aku akan memperlakukanmu sebagai teman seperti sebelumnya. Aku akan menanyakannya kembali saat kau kelas dua, jadi setidaknya kau bisa menjawabnya nanti.」

「Tetapi……」

「Yah, daripada aku tak ingin kau menjawabnya sekarang, lebih tepat jika dibilang aku tidak ingin mendengarnya! Soalnya jika aku mendengarnya sekarang, aku sudah seperti orang yang kalah, dan itu tidak keren.. ah, tapi bukan itu yang ingin kukatakan. 」

「Haha... Asagiri-san benar-benar selalu bersemangat.」

「Tentu saja」

Ya, tentu saja.

Hinoko tahu bahwa saat ini kondisinya tidak menjadi suram.

Dan tentu saja Junya sudah tahu bahwa dia tidak punya pilihan selain mengangguk.

「...Baiklah, aku mengerti. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi aku sangat senang kau mengatakan bahwa apapun yang terjadi, kau akan selalu ingin menjadi temanku. Terima kasih, Asagiri-san.」

「──────Ahaha.」

…..Orang ini masih bisa mengatakan 「terima kasih」 pada diriku yang pengecut.

Orang yang benar-benar lugu seperti anak kecil... Koga-kun, tolong tetap seperti itu...

Meskipun Hinoko diliputi rasa bersalah, dia tidak meminta maaf.

「Ahaha! Kalau begitu, untuk saat ini, ayo kita lihat panggung band!」

「……ah」

Seperti biasa, aku menepuk punggung Junya dan meninggalkan kelas bersama.

Sepertinya band pertama baru saja selesai, dan saat mereka meninggalkan gedung sekolah, suara itu sudah berhenti. __




0

Post a Comment