NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark

[LN] Tomodachi no Ushiro de Kossori Tewotsunaide - Volume 2 - Chapter 2 [IND]

 


Translator: Aldiwang 

Editor: Aldiwang 

Chapter 2 - Kampung Halaman



 「Jadi, kelas kita tidak mendapatkan undian untuk membuka stan makanan.」

「Apa katamu!?」

Saat itu sedang sesi perwalian setelah sekolah usai.

Ketika Shintarou, sebagai panitia festival budaya menjelaskan situasinya di depan kelas, aku refleks berteriak.

「Koga-kun, kau terlalu berisik.」

Seseorang di belakangku, Asagiri-san, melemparku dengan potongan penghapus.

Itu, tentu saja aku berteriak. Soalnya kita tak bisa membuka stan makanan, kau tahu? Kalau bicara tentang festival budaya, pastinya harus stan makanan bukan? Entah di anime atau manga tentang remaja SMA, acara seperti itu harus ada bukan?

...Eh, nggak juga sih. Dalam anime yang Shintarou berikan padaku beberapa waktu lalu, kelas mereka melakukan pertunjukan drama. Mereka menetap di gor hingga larut untuk latihan dan menyiapkan peralatan. Mereka berusaha untuk menciptakan panggung mereka dengan sebuah cerita, sungguh masa muda──

「Dan aku juga tidak mendapatkan undian untuk pertunjukan drama.」

「Pupuslah sudah harapan...」

「Hei, Koga-kun, kau benar-benar berisik!」

Kali ini dia melemparku dengan penghapus utuh. Itu sedikit sakit, lalu aku memungut penghapus itu.

Disamping Shintarou ada seorang anggota panitia perempuan, Horie-san, dia mulai menulis sesuatu di papan tulis.

『Membuat Monumen』

『Paduan Suara』

「Jadi setelah rapat panitia, keputusannya kelas kita akan melakukan salah satu diantara dua ini.」

「Pilihannya cuma dua itu!?」

「...Ah, sudahlah.」

Asagiri-san mengatakan itu dengan nada pasrah, kemudian tak mengatakan apapun lagi.

Sekilas info, dalam undian, pilihan pertama adalah membuka stan makanan, pilihan kedua menampilkan drama, dan kelas kami mendapat pilihan kelima. Namun karena ini merupakan keputusan panitia dan demi menyeimbangkan acara dengan kelas lainnya, sepertinya kami harus memilih satu diantara dua pilihan tadi.

Kalau begitu, lebih baik kalau kita membuat monumen, kan? Entah apapun yang akan kita buat, itu pasti akan terasa lebih menyenangkan ketimbang paduan suara. 

Semua orang akan tetap di kelas hingga sore, disinari cahaya matahari terbenam, dan suasana riuh di kelas 「Hei, tolong ambilkan cat itu」 atau 「Nih, kubawakan catnya」 atau yang semisalnya. Bukankah itu seperti pemandangan yang ada dalam drama tentang masa muda?

...Kupikir begitu, namun sepertinya semua orang di kelas berpikir sebaliknya.

「Yahh, kurasa menampilkan paduan suara juga bagus, kan? Membuat monumen itu terdengar membosankan.」

「Benar juga. Yang terbaik adalah yang paling mudah.」

Suara-suara negatif itu bermunculan, dan berdasarkan usulan terbanyak, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan paduan suara.

Ah... Mereka ini sama sekali tidak mengerti apapun. Padahal yang paling menyenangkan dari festival adalah persiapannya. Semakin sulit persiapannya, maka akan semakin menyenangkan. Dan juga, apa-apaan "Yang terbaik adalah yang paling mudah" tadi? Aku merasa kasihan dengan masa mudaku.

...Yahh, karena sudah diputuskan, aku akan berusaha menikmatinya.

「Kalau begitu untuk pengiringnya, adakah yang bisa main piano?」

Ketua kami, Shintarou memperhatikan seisi kelas. Tidak ada satupun yang mengangkat tangannya.

「Aku bisa memainkan gitar akustik, apa tak masalah?」

Itu adalah Seiran. Pada saat seperti ini, orang yang bisa bermain gitar harus bersinar.

「Kalau pengiring gitarnya hanya satu orang, sepertinya tidak cukup. Adakah yang bisa bermain selain Seiran?」

「Bukankah Yoru juga bisa bermain?」

Setelah Asagiri-san mengatakan itu, semua mata tertuju pada Narushima-san.

「E-eh? A-aku?」

「Yeah. Kau dulu sering bermain gitar dengan kakakmu, kan?」

「I-itu... anu... yahh...」

Sisi lain dari Narushima-san yang pendiam membuat seisi kelas terkejut. Akupun begitu. Aku baru tahu kalau Narushima-san bisa bermain gitar.

Yahh, lagipula dia memang menyukai musik.

「Jika ada dua orang yang bisa bermain gitar, kurasa tak akan ada masalah pada pengiringnya. Bagaimana, Narushima-san, apa kau mau melakukannya?」

「Etto, etto...」 Dia mengulang-ulang kata itu seperti binatang kecil yang pemalu ketika Seiran berbalik dan menatapnya, dan akhirnya,

Dia mengangguk dengan ekspresi ketakutan di wajahnya.

Kemudian kami berlima berpindah ke ruang musik, masih dalam keadaan terkejut.

Itu setelah sesi wali kelas berakhir, dan Seiran megatakan 「Ayo kita beri Narushima-san sedikit waktu untuk bermain」, lalu dia memberikan sebuah gitar akustik yang ada di sekolah.

Dengan jari-jemarinya yang lincah, ia memainkan beberapa lagu favoritnya dengan mudah.

Meskipun aku orang yang norak, tapi aku mengerti bahwa Narushima-san sangat pandai dalam hal itu. Tadi Seiran mengajariku tentang kunci C, namun pada awalnya, aku sama sekali tak bisa mendengar suaranya.

「Hebat... Kau sangat hebat, Yoru.」

Tak berbeda denganku, saat ini Asagiri-san juga sedang kesulitan dalam memainkan gitar akustik.

「Padahal panjang jarimu tak beda jauh denganku, tapi bagaimana kau bisa mencapainya? Memegang satu kunci saja sulit, tapi kau bisa berganti kunci dengan mudahnya.」

Seiran menghela napasnya karena kagum.

「Narushima-san lebih jago bermain dibanding denganku. Sejak kapan kau bermain gitar?」

「E..etto...mungkin sekitar kelas 4 SD. Aku memainkannya bersama kakakku dan seorang tutor belajarku...」

「Kau hanya memainkan gitar akustik sejak saat itu?」

「Y-yeah. Dan mungkin gitar listrik juga...」

「Hei Narushima-san.」

Narushima-san terkejut karena Seiran tiba-tiba meletakkan tangannya di pundaknya.

「Aku membutuhkan seseorang sepertimu. Kumohon. Bergabunglah ke band kami!」

「E-eh? Ma-maksudmu, klub musik ringan, kan? Tapi tak ada yang memainkan drum...」

「Kalau Narushima mau meminkan gitar, aku yang akan memainkan drum. Aku cukup mengerti caranya.」

Ah, dia juga bisa bermain drum rupanya. Dia memang orang yang bisa melakukan apapun.

「Kumohon, Narushima! Mainkanlah seperti ini! Tentu saja kau juga bisa memainkan lau yang kau suka! Kau mau kan? mau kan?」

「O-oke... Ta-tapi aku...」

Narushima-san menatapku seperti meminta pertolongan. Kali ini dia bukan menunjukkan wujud kucingnya, dan sepertinya ia benar-benar ketakutan. Ah, mungkin itu. Dia mungkin punya demam panggung.

Shintarou yang sedang menonton di sudut ruangan sepertinya juga menyadari itu.

「Jika kau tidak mau, kau bisa menolaknya. Tentu saja tentang menjadi pengiring paduan suara juga.」

Narushima-san menggelengkan kepalanya.

「Y-yeah, aku mau bermain untuk paduan suara kelas kita nanti, tapi tentang bend tadi... A-aku minta maaf.」

............................................

「Dengan gitarku... Aku meraih hatimu~♪」jreng...

Narushima-san berubah menjadi orang yang periang ketika bersamanya. Sekarang dia benar-benar menjadi orang yang berbeda.

Setelah kami kembali ke apartemen masing-masing, kami mengendarai sepeda mengelilingi kota saat terbenam matahari.

Karena Narushima-san tidak memiliki sepeda, dia membonceng dibelakangku. Sejak tadi ia terus mendendangkan sebuah lagu original dengan suasana yang ceria.

Karena dia akan menjadi pengiring paduan suara kelas, dia ingin mengambil gitar miliknya di rumah orangtuanya, dan ia memintaku untuk mengantarkannya.

Sebisa mungkin aku menghindari berduaan dengannya, namun aku tak bisa menolak yang satu ini.

「Tak masalah sih jika aku ikut denganmu, tapi bukankah lebih cepat jika kau naik kereta?」

「Lagipula, aku senang karena kau memboncengku dibelakangmu.」

Bisa-bisanya ia mengatakan hal itu dengan mudahnya.

「"Neo Junya Ekstra" milikku ini bukan taksi gratis milikmu kau tahu?」

「Semua milik Koga-kun milikku juga, dan semua milikku adalah milikku.」

「Dasar penganut gaianis. Atau mungkin lebih tepat jika kusebut judaisme? Kau memang suka membully.」

「Tapi hatiku dan tubuhku, semuanya hanya milik Koga-kun! Itulah doktrin Narushima!」

Narushima-san dibelakangku mengalungkan tangannya di pingganggku dan memelukku dengan sangat erat.

Dadanya yang besar menekan punggungku, dan aku hampir kehilangan kendali.

「Omong-omong...」

Aku tak ingin suasananya menjadi canggung, jadi aku mengubah topiknya.

「Narushima-san payah ketika bemain gitar di depan orang banyak, jadi kau menolak ajakan band itu kan?」

「Yeah. Meski begini, sebenarnya aku orang yang sangat gugup.」

「Shintarou juga sudah bilang kan? Jadi, bukankah lebih baik jika kau menolak untuk menjadi pengiring paduan suara?」

「Hmm, aku juga sudah lama ingin bermain gitar, jadi kurasa tak masalah jika hanya tampil untuk penampilan kelas. Tapi, kesampingkan Seiran-kun, membentuk band dengan seseorang yang tidak begitu kau kenal rasanya menakutkan~pyon. Aku tak mungkin bisa berdiri di panggung yang seperti itu~pyon.」

「Hentikan akhiran aneh itu. Itu terdengar menjijikkan.」

Sebuah area perumahan dengan beberapa bangunan yang serupa, disanalah rumah orangtua Narushima-san.

Kami menaiki sebuah elevator tua dengan tombol bundar yang membangkitkan nostalgia menuju lantai 5 dari sebuah bangunan kelas menengah. Narushima-san berhenti di tengah lorong yang disinari cahaya matahari dari arah barat.

「Disinilah tempatku, Narushima Yoru menghabiskan masa kecilnya.」

Aku sudah tahu hal itu. Meskipun ia tak memberitahu, aku sudah pernah kesini.

Narushima-san meletakkan kunci di lubang kunci, kemudian membuka pintu.

「Maaf mengganggu.」

Karena pintunya terkunci, jadi kupikir ada seseorang disana, dan kami masuk melalui pintu depan.

「...Ara.」

Terlihat seseorang dengan kamisol hitam mengintip dari ruang tengah.

Umurnya sekitar 20an, rambut hitam panjangnya berantakan, dan kamisol yang dikenakannya sekilas memperlihatkan dadanya yang besar dari belahannya.

Aku sudah bertemu dengannya sebelumnya. Dia adalah kakak Narushima-san.

Namun ia sama sekali tak bereaksi ketika adiknya datang setelah sekian lama tidak pulang, tidak juga menyapanya, dan langsung kembali bersembunyi di ruang tengah.

「Papa tak akan pulang sampai malam. Mama, sejak awal memang tidak ada, jadi jangan sungkan-sungkan.」

Narushima-san juga sepertinya tidak peduli terhadap tingkah kakaknya.

Di sebelah kanan pintu masuk adalah kamar Narushima-san, dan ia memanduku kesana.

Disana ada sebuah TV tanpa ada apapun diatasnya, sebuah rak buku kosong, dan sebuah ranjang lusuh di dekat jendela. Sepertinya apartemen yang sekarang ia tinggali ia dapatkan belum lama ini. Poster-poster band Barat dan Jepang masih tertempel di dinding, menunjukkan selera lama Narushima-san.

Dan di sudut ruangan, ada sebuah gitar akustik dan gitar listrik yang saling bersandar. Itu sedikit berdebu.

Narushima-san mengambil sebuah kain dari lemari dan menyerahkannya padaku.

「Maaf, tapi bisakah tolong bersihkan gitar itu dengan ini? Aku akan membuat kopi.」

「Hei, orang tadi itu...」

「Yeah, itu kakakku. Ah, aku tak terlalu akrab dengannya.」

Narushima-san mengalihkan pandangannya darinya menggaruk kepalanya dan tersenyum masam.

「Sebenarnya alasanku mulai hidup mandiri adalah karena kakakku kembali ke rumah ini. Sepertinya dia habis putus dengan pacarnya.」

Gara-gara kakaknya kembali ke rumah? Padahal ia masih kelas 1 SMA, tapi ia memutukan untuk hidup mandiri karena alasan sesederhana itu?

Yahh, banyak kemungkinan lain sih yang tak bisa dimengerti oleh seeorang yang tak mempunyai saudara sepertiku.

Narushima-san keluar kamar untuk membuat kopi, dan akupun membersihkan gitar itu seperti yang dia minta.

Kemudian.

「Hei, kau orang yang pernah kesini sebelumnya, kan?」

Kakak Narushima-san berdiri di depan pintu.

「Ah, iya. Maaf karena tadi aku belum menyapa.」

Ketika aku memebungkukkan badanku, Kakak Narushima-san melemparkan senyum jahil padaku.

「Sepertinya kau memang pacarnya Yoru, kan?」

「Anda keliru. Sebelumnya pernah kukatakan, bukan?」

「Lalu, bagaimana anak itu di sekolah?」

「Bagaimana ya... Dia normal seperti yang lainnya... Tapi mungkin juga tidak. tapi dia baik-baik saja. Kami juga sering bemain bersama.」

「Begitu... Umm, begitukah.... Anak itu, akhirnya bisa berteman dengan baik...」

Meskipun samar, sepertinya dia tersenyum lega.

Aku melihatnya sekali lagi, dia benar-benar mirip dengan Narushima-san.

Hanya saja, kakaknya memiliki pembawaan dewasa yang lebih tenang, atau lebih tepatnya, dia lebih cantik. Saat ini, dia tak menggunakan makeup apapun, tetapi jika dia memakainya dan merapikan rambutnya, kurasa dia akan memikat orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ketika Narushima-san lebih dewasa, apakah dia akan jadi cantik seperti ini ya──

「Onee-chan!?」

Seorang adik kembali dengan membawa nampan dengan dua cangkir kopi diatasnya.

Entah mengapa ia sangat marah──atau bisa dibilang, sekilas wajahnya dipenuhi ekspresi kebencian. Tangannya yang memegang nampan gemetaran dan kopi diatasnya ikut bergetar.

「Kenapa kau bicara dengan Koga-kun...?」

「Tak masalah kan? Aku hanya sedikit menanyakan kehidupan sekolahmu.」

「Sungguh hanya itu...? Kau tidak memikirkan yang aneh kan...?」

Apa maksudnya hal yang aneh?

「Tentu saja. Luka dalam hatiku belum sembuh, dan lagipula ia lebih muda dariku.」

「Jangan, Onee-chan, sungguh jangan lakukan itu. Kumohon, jangan dekat-dekat dengan Koga-kun.」

Entah mengapa Narushima-san menangis.

Kakaknya menatapnya beberapa saat kemudian tersenyum.

「Kau memang benar-benar adikku.」

「!?」

Wajah Narushima-san seketika menjadi kaku.

「Kau Koga-kun, kan? Mulai sekarang, teruslah akrab dengan Yoru ya.」

Kakaknya mengatakan itu padaku, kemudian segera meninggalkan kamar.

Di sisi lain, Narushima-san masih membeku dengan raut seperti ingin menangis.

「Narushima-san?」

Suaraku seakan menjadi sihir pembatal, dan kemudian Narushima-san kembali bergerak.

「Ah, ya... Ahaha, maaf ya.」

Sambil memperbaiki suasana, dia meletakkan nampan diatas karpet dalam kamar tak bermeja itu.

Karena kurasa aneh karena mereka tak akur sedikitpun, jadi aku bertanya padanya.

「Kupikir terlalu banyak bertanya itu tak baik, tapi apa pernah terjadi sesuatu antara kau dan kakakmu?」

「Ya. Banyak hal yang terjadi. Seperti yang dikatakan kakakku, kami memang bersaudara, dan ketika aku memikirkan itu, aku merasa sedikit takut... Kakakku yang saat itu, memiliki perasaan yang sama denganku sekarang.」

Bagian terakhir tadi, dia hanya bicara sendiri.

Kemudian ia menatap lurus ke arahku.

「Hei, Koga-kun. Apapun yang terjdi, aku akan tetap menyukaimu. Meskipun kau menyukai orang lain selain diriku, perasaan ini tetap tak akan berubah, tapi...hanya kakakku seorang. Aku hanya tak ingin kakakku merebut Koga-kun...memikirkannya saja...sudah membuatku takut.」

「Apa yang kau bicarakan?」

Narushima-san menyeka ujung matanya dengan jarinya.

「Soalnya, Koga-kun pasti berpikir bahwa kakakku sangat cantik. Kau pasti berpikir begitu.」

「Nggak, itu...」

「Aku nggak mau.」

「Gue belum ngomong apa-apa.」

Akhirnya Narushima-san menangis dengan kencang.

「Aku tak mau. Aku takut. Ternyata menyukai seseorang rasanya semenakutkan ini. Ketika kakakku membawa Totchi-niichan dariku dengan paksa, pasti rasanya seperti ini...」

Sebentar, siapa itu Totchi-niichan?

Aku tak terlalu mengerti, tapi ketika melihat Narushima-san menangis terisak dan menyekanya dengan tangannya seperti itu, itu membuatku tak tahan. Kupikir itu adalah hal yang sangat rumit.

「Jadi, aku memang berpikir bahwa kakak Narushima-san sangatlah cantik.」

「Nggak, nggak! Hentikan! Aku tak ingin mendengarnya!」

「Dan aku berpikir, apakah Narushima-san akan jadi cantik seperti ini suatu saat nanti.」

「Nggak nggak!───eh?」

「Hanya itu saja yang kupikirkan. Sungguh hanya itu.」

Tolong maklumi perkataanku yang seperti ini, tapi memang hanya itu yang kupikirkan.

Kemudian Narushima-san mengelap matanya.

「Ufufu...」

Sepertinya dia sangat bahagia. Memang orang yang sangat mudah ditebak.

「Kau boleh lebih memujiku lho. Kau juga bisa bilang kalau kau menyukaiku.」

「Membersihkan gitarnya seperti ini saja cukup kan?」

「Jangan abaikan aku! Akan kupatahkan punggungmu!」

Menakutkan... Yahh, dia sudah kembali ke dia yang biasanya, jadi tak apalah.

Jadi, alasan dia repot-repot membawaku ke rumahnya bersamanya karena ia terlalu takut pergi sendirian karena kakaknya ada disana.

Setelah itu, Narushima-san sama sekali tidak bicara lagi dengan kakaknya.

Karena itulah aku tak akan menanyakan hal yang tak perlu.

「Sudah lama aku tak menyentuh gitar listrik.」

Narushima-san sedang duduk di ranjang tua miliknya dengan memegang sebuah gitar listrik yang bodinya berwarna biru dan putih yang keren.

「Hei, coba mainkan sesuatu.」

「Hmm, aku sudah lama tak memainkannya, jadi jari-jariku mungkin agak lemah sekarang.」

Sambil mengatakan itu, dia memegang petikan senar di tangan kanannya dan membunyikan keenam senar sekaligus.

Jari-jari tangan kirinya memegang leher gitar dan memainkan kunci-kuncinya.

Suara bagian intro lagu dari band terkenal keluar dari amp.

Jari-jemari Narushima-san menari-nari di leher gitar dengan sangat cepat, hingga aku tak bisa memastikan jari mana sedang memegang senar yang mana.

Meski begitu, melodi yang keluar dari amp terdengar sangat stabil, seakan itu adalah sihir.

Kemudian Narushima-san menghentikan lagu itu di titik yang tepat.

「... Kau sungguh hebat.」

「Ufufu. Terima kasih, tapi menurutku, permainanku yang sekarang ini biasa saja.」

「Sekarang itu terdengar memuakkan.」

「Maksudku biasa adalah, aku memainkan lagu seperti seharusnya. Contohnya saja, entah apa yang menyenangkan dari permainan yang seperti ini.」

Kemudian Narushima-san kembali memainkan lagu yang sama, masih menggerakkan jari-jemarinya seperti sihir. Aku belum pernah memperhatikan tangan gitaris sebelumnya meski hanya lewat video, namun ternyata melihatnya saja terasa menyenangkan.

Setelah menyelesaikan lagu itu, Narushima-san menatapku kemudian bertanya. 「Hei.」

「Apanya yang hei!?」

「Kali ini, aku tak hanya akan meniru lagu saja, tapi aku sedikit mengubahnya. Ini akan menjadi lagu versiku, dan akan kumainkan dengan caraku. Melakukan ini juga salahsatu caraku menikmati musik.」

「Hmm?」

Narushima-san bilang kalau ia sedikit mengubah lagu itu, tapi sejujurnya, aku tak tahu perubahan apa yang ia tambahkan. Kurasa terdengar tak ada bedanya dari yang pertama tadi.

「Jadi kau pikir, tak ada manfaatnya menambahkan perubahan yang hanya diketahui orang-orang tertentu?」

「Yahh, mungkin begitu.」

「Sebenarnya tak masalah sih. Ini semua hanya masalah si pemain. Intinya, entah aku yakin atau tidak, mungkin laguku tak akan sampai pada si pendengar. Tapi setidaknya, aku merasa senang ketika memainkannya dengan bebas.」

「Jadi maksudmu, tak masalah jika lagumu tak akan sampai kepada orang yang kau tuju?」

「Yahh, kalau memang itu tersampaikan, aku akan sangat senang. Tapi yang terpenting menurutku adalah, aku bisa memainkannya dengan cara yang kusukai. Bisa dibilang, ini hanya keegoisan pribadiku. Aku sudah puas hanya dengan itu. Apa kau tak berpikir itu sama seperti cinta?」

「... Aku tak begitu mengerti. Apa kau tak masalah jika cintamu tak sampai pada orang yang kau tuju?」

「Karena itulah kubilang, aku senang bila itu tersampaikan. Tapi meskipun itu tak tersampaikan, hal yang paling penting adalah apakah kau memasukkan perasaanmu atau tidak didalamnya. Ketika aku sedang bersama Koga-kun, aku selalu memperlakukanmu dengan segenap perasaanku. Tapi meski begitu, itu membuatku puas.」

「Be-begitu kah...」

Narushima-san menatap lurus padaku, dan tatapannya terasa sangat menyakitkan hingga aku mengalihkan pandanganku.

「Hei, apa lagu kesukaanmu, Koga-kun? Jika aku tahu lagunya, aku akan memainkannya untukmu sepenuh hatiku.」

「Lagu yang kusukai... Apa ya...」

Aku berpikir sejenak, kemudian aku menemukannya dengan mudah.

「Ah, itu dia. Lagu dari band "Tsuki to Herodias".」

「Oh, tak kusangka kau penggemar Meher.」

Ah ia tahu rupanya. Ternyata pengetahuannya luas juga.

「Itu kan? Band duo pria dan wanita yang dibentuk oleh El Cid yang merupakan produser Vocaloid. Lagu itu sedang populer sekarang.」

「Benar, benar! Lagunya, videonya, dan animasinya sangat keren! Dan yang paling penting, lirik yang ditulis oleh El Cid benar-benar seperti dewa!」

Lagu yang paling kusuka dari band itu adalah "Gunjo Aoiro".

Pertama kali aku mendengarnya adalah ketika musim panas kelas 3 SMP. 

Saat itu, aku, Seiran, dan Shintarou membuat rencana gila dengan mengendarai sepeda sejauh yang kami bisa, dan akhirnya kami pulang larut malam. Lalu kami memasuki sebuah restoran keluarga yang kami temui di jalan, kemudian kami mengoceh tentang banyak hal.

Kemudian lagu itu diputar di restoran tersebut.

Itu adalah lagu yang naif dan menyakitkan tentang masa muda seorang anak. Ketika aku bertanya pada Seiran 「Lagu apa ini?」 dia menjawab 「Ini lagu "Gunjo Aoiro" dari band Tsuki to Heroodias.」

Bagiku, lagu itu tertulis pada halaman pertama masa mudaku yang bodoh dan menyakitkan yang kuhabiskan bersama teman-temanku, dan itu menjadi lagu yang sangat mengesankan.

「...Jadi sejak saat itu, aku menjadi penggemar Tsuki to Herodias. Oh iya kalau tidak salah, akan ada penampilan langsung di toko CD di depan stasiun. Aku harus mengingat itu.」

Aku kembali memeriksa info itu di ponselku. Aku sudah menulis jadwal untuk konser itu di kalender dalam ponselku.

「Ufufu, jadi begitu...」

Narushima-san yang mendengarkan tentang kenanganku tertawa kecil, kemudian sedikit merubah posisi gitarnya.

「"Gunjo Aoiro" dari Tsuki to Herodias. Aku belum sering mendengarnya, jadi aku tak terlalu paham aransemennya, tapi kira-kira seperti ini kan?」

Ia mulai memainkan bagian intro ketika mengatakan itu.

Padahal dia belum terlalu sering mendengarnya, tapi dia bisa memainkannya tanpa lembar musik, dia benar-benar hebat.

Selain itu, permainan gitar Narushima-san sangatlah menenangkan, dan kurasa aku bisa sedikit mengerti tentang aransemen dan memasukkan perasaan yang tadi dia bilang.

Mungkin karena itulah ketika aku mendengar permainan gitar Narushima-san, ingatanku tentang hari itu terlihat jelas olehku.

Shintarou, Seiran... Kalian memang sahabat terbaikku.

Aku tak bisa mengkhianati kalian.

Selama kalian masih ada disini, aku tak akan jatuh cinta...

「Hei, Koga-kun. Mumpung aku sedang bermain, nyanyilah.」

「Serahkan padaku. Fukai yozora niiii ~♪ aaaa ~♪」

「Sebegitu payahnya kau dalam bernyanyi?」

Dan nyanyianku berhenti seketika.

「Bukankah kau sudah tahu kalau aku buta nada? Kita sudah beberapa kali pergi ke karaoke bersama.」

「Yahh, aku memang sudah tahu, tetapi... ah sudahlah. Maaf. teruskanlah.」

Narushima-san kembali memainkan gitarnya────kemudian ia kambali berhenti.

「.......」

Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu, sambil memandang ke arah ubin dengan masih memegang gitar.

「Apa-apaan kau ini. Padahal aku sedang enak-enaknya bernyanyi. Lanjutkanlah permainanmu.」

Setelah itu dia menatapku, kemudian tersenyum.

「Sepertinya lain kali saja. Kalau itu memang lagu yang sangat berharga bagi Koga-kun, aku harus berlatih lagi agar aku bisa benar-benar memasukkan perasaanku kedalamnya, kemudian akan kumainkan lagi untukmu.」

............................................

Ketika kami keluar dari rumah Narushima-san, itu sudah cukup larut.

「Hei, hei. Hari ini ayo kita makan di sutu tempat sebelum pulang.」

「Sa-saat ini, aku tak terlalu ingin...」

Dalam perjalanan pulang, aku masih mengayuh sepedaku dengan Narushima-san membonceng di belakangku.

Dibandingkan ketika berangkat, entah kenapa sekarang menjadi tak seimbang karena rasanya lebih berat.

Yahh, wajar saja sih. Soalnya Narushima-san bilang kalau dia tak hanya membawa gitar akustiknya saja, melainkan juga gitar listriknya.

Keduanya dimasukkan ke dalam tas nilon, namun dia membawa gitar akustik di punggungnya, dan membawa gitar akustiknya dengan kedua tangannya.

Karena itulah beberapa kali benda itu membentur punggungku dan belakang kepalaku.

Dan sebagai bonus, ada tas berisi mini amp di keranjang sepeda. Dengan bawaan sebanyak ini, aku tak berpikir bisa berhenti di suatu tempat.

「Jika kau juga membawa gitar listrikmu, lebih baik kita naik kereta saja dari awal...」

「Awalnya juga aku hanya berniat membawa gitar akustik. Terima kasih, Koga-kun.」

「Setelah ini, kau harus memijat kakiku, oke?」

「Ufufu. Tak masalah. Selama apapun akan kupijat. Sekarang, majulah "Neo Junya Ekstra"!!!」

Narushima-san sepertinya bersenang-senang, dan aku terus mengayuh sepedaku dengan susah payah.

Dan keesokan harinya di ruang kelas, aku melihat adegan itu.

「H-hei, Seiran-kun... tentang band yang kau bicarakan kemarin...」

Narushima-san yang berbicara dengan Seiran dengan nada yang malu-malu.

「Ah, maaf karena sudah memaksamu. Aku akan mencari anggota lain, jadi tak usah kau pikirkan, oke?」

「A-ah, tentang itu, Seiran-kun mau memainkan lagu yang kusukai. Apa sungguh tak masalah?」

「Ah, kami belum memutuskan mau membawakan lagu apa, lagipula band kami juga sedang di ujung tanduk. Eh, jangan-jangan Narushima...」

「Y-yeah...ka-kalau memang menurutmu kemampuan gitarku cukup, kupikir aku ingin ikut.」

───Ha?

「Sugguh? Apa kau serius, Narushima?」

「Yeah. Sebenarnya, ada lagu yang sangat ingin kumainkan dalam band... Tapi, apa sungguh tak masalah...? Jika memang itu menganggu, aku...」

「Tak mungkin kau mengganggu! Jika Narushima-san mau memainkan gitar, lagu sesulit apapun pasti akan kumainkan! Omong-omong, lagu apa yang sangat ingin kau mainkan itu?」

「T-terima kasih. Lagu yang ingin kumainkan itu...」

Narushima-san melirikku sesaat dengan tatapan yang malu-malu, kemudian mengatakan.

「...Gunjo Aoiro dari Tsuki to Herodias.」



Post a Comment

Post a Comment