NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark

[LN] Tomodachi no Ushiro de Kossori Tewotsunaide - Volume 2 - Chapter 3 [IND]

 


Translator: Aldiwang 

Editor: Aldiwang 

Chapter 3 - Pengecut 



 Akhirnya Narushima-san bergabung dengan band Seiran.

Dia bergabung dengan band itu demi bisa memainkan satu lagu yang sangat berkesan bagiku dalam band, yaitu Gunjo Aoiro dari Tsuki to Herodias.

Jujur saja, sangat menyenangkan bagiku untuk mendengarkan lagu itu dalam live band.

Meski agak lancang bagiku untuk mengatakan ini, tetapi Narushima-san adalah tipe orang yang akan melakukan apapun untuk membuatku bahagia. Meskipun ia kesulitan bermain di tengah keramaian, dia adalah tipe orang yang akan menahannya.

Karena itulah ketika aku tak bisa menghadapi perasaannya secara langung, kurasa aku adalah orang yang sangat buruk.... Tetapi aku sangat menantikan penampilan band Narushima-san.

Berdasarkan penjelasan dari panitia acara yaitu Shintarou, akan ada pesta penutupan di malam hari setelah festival sekolah usai, dan akan ada paggung khusus yang disiapkan. Penampilan band dari siswa akan diadakan di panggung tersebut.

Band Narushima-san digolongkan sebagai klub musik ringan, sehingga mereka akan menjadi bintang disana.

Entahlah apa ia sanggup tampil dengan baik di panggung seluas itu...

Di hari itu setelah sesi wali kelas berakhir, Seiran memanggil Narushima-san.

「Kalau begitu, ayo, Narushima.」

「Y-yeah.」

Seiran dan Narushima-san tak hanya harus berlatih untuk band, tetapi juga untuk penampilan paduan suara kelas.

Karena itulah belakangan ini, mereka selalu pergi ke ruang musik bersama sepulang sekolah.

「Kalau begitu, sampai jumpa. Kami berharap pada latihan paduan suara kalian. Musik pengiring dari kami sudah hampir sempurna.」

「Baiklah. Semangat untuk latihan band nya. Kau juga, Narshima-san.」

「Yeah. Bye-bye semuanya.」

Narushima-san membungkukkan badannya sambil tersenyum malu, kamudian meninggalkan kelas bersama dengan Seiran.

「Kalau begitu, kita akan pulang bertiga lagi hari ini.」

Aku mengatakan itu sambil berbalik menghadap Shintarou dan Asagiri-san.

「Ah, maaf. Sementara ini, aku juga harus menghadiri rapat bersama panitia festival sekolah.」

Shintarou buru-buru mengambil tasnya.

「Ah rupanya kau juga punya urusan lain. Sepertinya rapat itu akan berlangsung cukup lama, ya...」

「Hmm, entahlah. Setidaknya itu akan memakan waktu selama satu jam, tapi aku juga tak tahu.」

「Hei Tanaka-kun, apa kau belum selesai?」

Seorang gadis dari panitia acara, Horie-san memanggilnya dari depan pintu kelas.

Shintarou memebalas mereka, 「Aku segera kesana」 kemudian sekali lagi menoleh pada kami.

「Jadi, kalian pulanglah duluan. Sampai jumpa.」

Setelah mengatakan itu, ia pergi bersama Horie-san dengan terburu-buru.

Tersisa diriku dan Asagiri-san, dan kami saling bertatapan.

「Jadi bagaimana, Koga-kun?」

「Hmm, bagaimana ya...」

Tepat setelah itu, beberapa gadis yang masih berada di kelas memanggil Asagiri-san.

「Hei, Hinoko-chan. Crepe yang kemarin kau bicarakan, tempatnya dimana ya?」

「Ah, toko itu... Anu, aku tak pandai menjelaskan dengan kata-kata.」

Sepertinya kami tak akan pulang bersama kali ini.

「Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa besok.」

「Ah, yeah. Sampai jumpa, Koga-kun.」

Aku pergi keluar kelas sendirian, meninggalkan Asagiri-san yang sedang dikerumuni para gadis.

Ketika aku berjalan menuju tangga ke lantai pertama, entah mengapa aku berbalik.

Meski sudah waktunya pulang, koridor sekolah masih dipenuhi keributan. Para gadis yang membicaakan tentang festival sekolah, dan beberapa laki-laki yang berjalan bersebelahan sambil mengobrolkan tempat yang akan mereka kunjungi sepulang sekolah.

Pada hari-hari biasanya aku berada di salah satu keributan tersebut, namun hari ini aku hanya sendirian saja.

Mungkin karena alasan itu, aku merasa keributan di sekitarku terasa sangat mengganggu. Bahkan terlintas dalam benakku sebuah perasaan kesepian, seakan aku ditinggal seorang diri di sebuah sekolah yang sama sekli tak kuketahui.

Dengan maksud untuk menemui seorang kenalan lamaku, aku melewati ruang audio visual dimana rapat panitia festival berlangsung. Aku mengintip dari balik pintu, dan aku bisa melihat Shintarou di tengah rapat tersebut.

Dia terlihat sangat sungguh-sungguh menjadi panitia. Di sampingnya ada seorang gadis bernama Horie-san dan...seorang senpai yang tak kuketahui namanya. Mungkin itu Konishi-senpai yang disukai oleh Shintarou.

Dalam hati, aku berbisik 「Berjuanglah」 kemudian lanjut mengelilingi bangunan sekolah yang ramai, tanpa melakukan apapun.

Kemudian aku sampai di depan ruang musik.

Ketika aku mengintip melalui jendela, Narushima-san dan Seiran sedang duduk berhadapan sambil memainkan gitar akustik. Sepertinya mereka sedang berlatih memainkan musik pengiring untuk paduan suara kelas kami.

Kami memutuskan untuk menyanyikan tiga buah lagu populer dalam paduan suara. Aku sama sekali belum melakukan latihan dasarnya, dan sejauh ini aku tak memiliki banyak hal untuk dilakukan, tak seperti mereka berdua.

「...Aku bosan.」

Sambil mendesah, aku menggumamkan itu.

「Eh, bukankah kau Koga-kun dari kelas 1-2?」

Seseorang memanggilku dari belakang.

Ketika berbalik, aku melihat seorang siswa yang menggunakan kacamata. Dia membawa tas gitar.

Itu adalah Ryoichi Tokiwa dari kelas 1-5. Dia adalah anggota klub musik ringan yang tergabung dalam band bersama Seiran dan yang lainnya.

Suatu hari, dia dan Seiran kebetulan bertemu di toilet, dan mereka sangat bersemangat ketika mengobrolkan tentang musik dan akhirnya menjadi akrab. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat band untuk tampil di festival sekolah. Saat itu, Tokiwa sedang mencari orang untuk menjadi anggota band, namun sepertinya ia kerepotan karena semua anggota klub musik ringan seperti hantu.

Omong-omong, Tokiwa bergabung dalam band dengan alasan untuk menunjukkan sisi kerennya pada pacarnya. Menurut Seiran, itu adalah alasan kebanyakan laki-laki yang bergabung dalam band.

Kemudian entah mengapa Narushima-san muncul di benakku, dan itu membuatku sedikit malu.

「Orang yang kalian perkenalkan padaku, Narushima-san sangat keren. Baru pertama kali aku melihat gadis yang bermain gitar sepandai itu. Ditambah lagi, dia juga cantik. Benar-benar seperti malaikat. Kalian berdua menyembunyikan senjata rahasia sepertinya.」

Tokiwa menepuk dadaku sambil tersenyum ramah.

「...Kalau tidak salah, kau punya pacar, kan?」

「Yeah. Eh, ada apa ini? Jangan-jangan kau pacaran dengan Narushima-san?」

「Hmm, tidak juga sih...」

「Bukankah wajar jika aku menyebut gadis cantik dengan cantik? Hei Tsukasa, jangan hanya berdiri disana, dan cepat masuklah ke dalam. Setelah ini kami ada latihan band, jadi bagaimana jika kau menontonnya? 」

「Ahaha. Aku menantikan penampilan kalian. 」

「Begitukah? Hehehe, aku akan membuat panggung menjadi panas dingin, jadi nantikan penampilan kami, Koga. 」

Tokiwa mendorong punggungku dengan kuat ke arah pintu masuk ruang musik.

Apanya yang panggung panas dingin? Aku tak ingin repot-repot menanggapi candaannya yang aneh itu.

Sekali lagi aku mengintip ke dalam ruang musik, dan disana latihan gitar akustik Seiran dan Narushima-san terhenti karena melihat bayangan besar Tokiwa. Iapun melambaikan tangannya kemudian mengobrol dengan antusias. Setelah itu, kami bertiga masuk ke ruang perlengkapan musik yang ada di bagian belakang. Sebenarnya itu adalah ruang klub musik ringan yang disatukan dengan studio, dan disana juga ada satu set drum.

...Tokiwa ternyata adalah orang yang baik. Kurasa ia bisa akrab dengan Narushima-san.

Kemudian aku meninggalkan ruang musik, dan kembali menyusuri lorong.

Lalu, akupun berjalan menuju atap sekolah.

Alasanku tak langsung pulang ke rumah adalah ── karena aku merasa kesepian.

Sejak kelompok lima orang ini terbentuk, aku tak pernah pulang sendirian.

Jadi aku berpikir jika aku menghabiskan waktu dengan baik, aku bisa pulang bersama dengan seseorang dari mereka.

Aku terus menghabiskan waktu kosongku seperti itu, berkeliling di area sekolah.

Ketika aku membuka pintu atap, angin gunung yang dingin tiba-tiba bertiup.

Cuaca disini masih panas hingga minggu lalu, tapi kami sudah berganti ke seragam musim dingin.

Matahari terbit lebih awal di bulan Oktober ini, namun meski belum terlalu larut, ia sudah kembali terbenam. Cahaya oranye mewarnai atap sekolah.

Aku pernah mendengar di suatu tempat, bahwa seseorang akan mulai merindukan orang lain ketika dingin mulai datang.

Kurasa, aku sudah mengerti sesuatu.

Kehangatan adalah kebutuhan setiap orang, atau tepatnya jika seseorang sedang sendirian di tengah cuaca dingin, ia akan merasa ingin terhubung dengan seseorang. Sepertinya semua manusia itu pengecut, termasuk diriku.

「Mereka belum selesai, kah... 」

Aku bicara sendiri sambil menghadap tower.

Dan ternyata sudah ada seseorang disana.

Seorang gadis dengan rambut pendeknya tertiup angin musim gugur, dia sedang menikmati pemandangan kota yang diwarnai cahaya oranye.

Namun entah mengapa, punggungnya seakan menggambarkan seseorang yanga sedang meratapi kesedihan yang mendalam.

Sosoknya seperti sebuah lukisan yang indah, seakan terlihat seperti ilusi.

Akupun berdiri di sebelahnya, kemudian melihat ke arahnya.

Namun meskipun ia menyadari kehadiranku, dia mengatakan hal ini tanpa menatapku.

「Ah, kau masih disini rupanya. 」

「Kau juga, Asagiri-san. Kukira kau sudah pulang. 」

Asagiri Honoko.

Gadis yang periang dan selalu enerjik. Meskipun ia terlihat dewasa, dia tak berbeda dengan anak kecil yang selalu riang daripada siapapun dan selalu ingin bersenang-senang ketika bermain dengan kami.

Namun dalam saat tertentu, ia akan menampakkan kedewasaannya dan kesedihannya yang sangat cocok dengan penampilannya. Terkadang hal mengerikan juga keluar dari mulutnya.

Sampai beberapa waktu lalu, aku sedikit jatuh cinta pada Asagiri-san.

...Hingga aku memiliki hubungan dengan Narushima Yoru seperti sekarang ini.

「Bukankah tadi gadis-gadis di kelas menanyakan tentang toko crepe padamu? Jadi kukira,」

「Ah, yeah. Tadi mereka mengajakku, tapi tiba-tiba aku merasa malas. 」

「Ah, begitu. 」

Aku tak menanyakan alasannya.

Kami berdiri bersebelahan, terus memandangi matahari yang terbenam dengan tanpa suara.

「Sepertinya, mereka berdua makin akrab saja. 」

Mereka berdua yang ia maksud pastilah Narushima-san dan Seiran.

Sepertinya, sejak awal Narushima-san pernah bilang kalau ia ingin pacaran dengan Seiran. Dia benar-benar tipeku, dan kurasa ini bisa berlanjut menjadi sebuah kisah cinta──ah, bicara apa aku ini...

Tapi sebelum hal itu terjadi, Asagiri-san pasti tidak tahu bahwa telah terjadi sesuatu antara aku dan Narushima-san.

「Aku sangat mendukung Yoru dan Seiran-kun. Tapi sebenarnya, aku sedikit takut. 」

Asagiri-san meletakkan tangannya di pagar dan tersenyum lemah.

「Mungkin aku terlalu terbiasa dengan kebersamaan kita berlima. Itu sangat nyaman dan sangat menyenangkan, jadi aku sedikit takut jika hubungan diantara kita berlima akan berubah. 」

「Ahaha... Apa yang kau bicarakan? Apapun yang terjadi, pasti tak kan ada yang berubah, bukan? Soalnya kita selalu bersama. 」

Sebenarnya juga ingin mengatakan hal itu untuk diriku sendiri.

「Tapi, Koga-kun. Kita tak mungkin selamanya bersama, kau tahu? Meskipun Yoru dan Seiran-kun tidak bersama kita. 」

「...Kenapa? 」

Aku mencoba membuang perkataan yang belum kukatakan dengan selembut mungkin.

「Karena manusia selalu mengalami pertemuan dan perpisahan. Ah iya, contohnya saja ketika kau berpisah dengan teman-temanmu di SMP, kau akan mendapatkan teman baru di SMA. Akupun setelah berpisah dengan teman-temanku di SMP, aku bertemu dengan Koga-kun dan yang lainnya. 」

「Kalau begitu, bukankah akan bagus jika kita berlima akan selalu bersama selamanya? 」

Asagiri-san mengangguk setuju.

「Tapi, setelah kita semua lulus SMA, kuyakin kita semua akan berpisah. Saat tahun pertama di universitas nanti, kita semua akan mendapat teman baru, dan ketika kita mulai bekerja, kita akan mendapat kenalan baru... Akhirnya, orang yang biasanya kita temui setiap hari akan berubah menjadi sebulan sekali. Kemudian mungkin akan semakin jarang bertemu, dan akhirnya──」

「Tolong jangan mengatakan hal yang menyedihkan seperti itu. 」

Perkataannya terlalu realistis dan aku belum pernah berpikir sejauh itu.

「Aku juga berpikir bahwa itu menyedihkan. Manusia adalah makhluk yang fleksibel dan mudah beradaptasi dengan lingkungan.Awalnya mereka akan merasa kesepian ketika ia berpisah dengan temannya, namun kemudian ia pasti bisa mengatasinya. Karena itulah hari-hariku saat ini bersama kalian semua adalah hal yang sangat berharga bagiku. 」

Ada apa dengan Asagiri-san hari ini?

Sesuatu yang sangat menyedihkan baru saja keluar dari mulutnya.

「...Ahaha, maaf ya. Padahal jalan kita masih panjang, tapi aku membicarakan hal semacam ini. 」

Asagiri-san mengibaskan rambutnya di udara dan melempar senyum kecil padaku.

「Tidak, aku mengerti. Semua yang kau katakan ada benarnya juga. 」

Aku menghiburnya dan membalas senyumannya.

「Lagipula misalnya kita naik kelas dan kita akan berpindah kelas, kita akan berubah. Kita berlima mungkin tidak akan bersama lagi. Hanya saja, aku masihlah seorang anak-anak yang belum bisa menerima kenyataan itu. 」

Ya.

Harapan kami berlima selalu bersama hanyalah sesuatu yang kekanak-kanakan. Padahal sudah jelas bahwa semua itu tidak mungkin. 

Suatu saat nanti, kami semua akan berpisah, masing-masing dari kami akan mendapatkan teman baru, dan perlahan kami akan terbiasa dengan semua itu. Bahkan rasa kesepian yang baru saja kurasakan, akan datang saat dimana aku terbiasa dengan itu.

Meski begitu, tetap saja──aku masih ingin kami berlima terus bersama.

「Yahh, meskipun kita semua berpisah, aku akan mengumpulkan kalian semua satu persatu. Dan saat itu, aku akan memaksa kalian semua melakukan hal bodoh bersama-sama. Meskipun kita semua sudah makin menua, aku akan mengembalikan perasaan yang saat ini kalian rasakan. Jadi, kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. 」

「...Ufufu. 」

Asagiri-san menatap langit senja kemudian tertawa keras 「Ahahaha」.

「Yeah yeah. Aku tahu Koga-kun pasti akan melakukan itu.」

Setelah itu, tak ada setitik pun kesedihan padanya. Ia sudah kembali menjadi Asagiri Hinoko yang biasanya.

Akupun refleks tersenyum. Asagiri-san yang tersenyum memanglah yang terbaik.

「Hei Asagiri-san. Sepertinya yang lain belum selesai dari urusannya. Apa sebaiknya kita pulang berdua saja? 」

「Ufufu. Kalimat itulah yang dari tadi kutunggu. Kalau begitu, ayo kita pulang...」

Asagiri-san melompat turun dari kubah dan berjalan ke arahku.

Sambil mengayunkan tas yang ia pegang dengan kedua tangannya, ia berputar dan sekali lagi melihat ke arahku. 

「Hei, cuaca sekarang agak dingin. Bagaimana jika kita membeli oshiruko panas untuk dibawa pulang?」

TL note : Oshiruko adalah manisan yang terbuat dari kacang azuki.

Akhirnya kami membeli oshiruko kaleng di minimarket yang kami temui di jalan pulang, kemudian kami meminumnya di trotoar jalan di depan minimarket tersebut.

Disini sudah gelap. Area ini adalah area pedesaan dan hampir tidak ada bangunan, jadi angin malam terasa sangat kencang dan agak dingin.

「Huft... Malam di pedesaan memang sangat dingin. Sake hangat mungkin akan terasa nikmat!」

「Cara bicaramu seperti om-om pekerja nakal yang datang dari kota.」

「Ah, sepertinya di sekitar sini banyak orang yang seperti itu. Gara-gara anak muda disini banyak yang pergi keluar kota, akhirnya area ini dipenuhi om-om dan orang tua. Hei Koga-kun, apa kau sudah memikirkan rencana setelah kelulusanmu dari SMA? 」

「Tidak. Aku sama sekali belum memikirkannya. 」

「Ah, lagipula kita masih kelas satu. Akupun sama sekali belum memikirkannya.」

「Omong-omong setelah lulus SMA nanti, apa rasanya akan seperti 'Yay, mulai hari ini, aku adalah orang dewasa'? Kapan anak-anak disebut sebagai orang dewasa? 」

「Bukankah itu ketika kau bisa meminum sake hangat setiap kali kau menginginkannya?」

「Ahahaha. Koga-kun, kau mengatakan sesuatu yang menarik. Memang sih aku belum pernah berpikir ingin untuk minum sake. Entah kondisi apa yang membuat orang dewasa ingin meminum hal buruk semacam itu. 」

「Jangan-jangan, Asagiri-san. Kau pernah minum sake?」

「Yahh, bukankah ada waktu ketika kau ingin meregangkan tubuhmu? Aku pernah meminum sedikit sake milik ayahku, karena aku penasaran. 」

Dia membuat isyarat dengan ibu jari dan telunjuknya, dan jarak antara keduanya lumayan jauh.

「Tapi saat ini, bagaimana ya... Aku berpikir aku tak begitu ingin menjadi dewasa. Sepertinya akan banyak masalah jika menjadi orang dewasa, dan aku juga tak akan bisa bermain bersama Koga-kun dan yang lainnya. 」

Aku setuju.

Jika aku tak bisa lagi melakukan hal-hal bodoh bersama teman-temanku, aku bahkan tak ingin tumbuh dewasa.

「Hei, Koga-kun. Apa kau tahu seorang direktur film bernama Truffaut?」

「Baru kali ini aku mendengarnya. 」

Oh iya, Asagiri-san memang menyukai film. Mungkin itu adalah pengaruh dari ayahnya. Mulai dari film keluaran terbaru, hingga ke film hitam-putih, dia menyukai segala jenis film.

「Yahh, itu film yang cukup tua, sih. Ada salah satu karyanya yang menyuratkan bahwa 'orang dewasa itu sulit dipahami'. Itu adalah cerita tentang seorang remaja nakal yang menggambarkan permusuhan dengan orang dewasa. Dulu, aku sangat mendukung pemuda pemeran utama. Tapi setelah aku menontonnya lagi baru-baru ini, pemikiranku benar-benar berubah. Aku berpikir 'mengapa tokoh utama ini sangat egois?'」

「Apakah kesan si pemuda pemeran utama terlihat berbeda?」

「Yeah, benar. Yahh, mungkin itu karena aku sudah sedikit tumbuh dewasa. Ah, nggak, nggak. Tak bisakah aku terus menjadi anak kecil yang polos dan periang? 」

Aku benar-benar setuju──ah, begitu rupanya. 

「Aku yakin kau akan minum sake ketika sedang merasa begini.」

「..........」

Asagiri-san menatapku dengan wajah yang terkejut.

Dengan ekspresi masih seperti itu, kemudian dia mengatakan ini padaku dengan nada yang tenang.

「Koga-kun, kau benar-benar mengatakan sesuatu yang menarik.」

「Iya kan? 」

Kami meminum tegukan terakhir oshiruko, yang tentunya tidak beralkohol bersama-sama. Tentunya aku tak akan mabuk.

「Hei, Koga-kun.」

「Hmm?」

「Bolehkah aku menciummu?」

Sebuah truk besar lewat di jalan pedesaan di belakang mereka.



Truk itu meninggalkan asap yang hitam dan suara mesin yang kasar.

「Eh, kenapa tadi?」

Aku menanyakan padanya setenang yang kubisa.

Aku tak tahu bagaimana wajahku saat itu, tapi wajah Asagiri-san benar-benar seperti yang biasanya. Seperti dalam anime dan manga, wajahnya tak memerah sedikitpun, dan benar-benar seperti biasanya.

「Anak laki-laki lebih suka bermain dengan teman-temannya kan? Aku berpikir, apakah kita semua juga bisa begitu?」

Sesaat, nada bicaranya berubah menjadi sunyi dan tenang, namun sekarang sudah berubah menjadi seperti biasanya. 

Saat ini nada bicaranya sudah kembali menjadi nada yang ceria dan periang.

「Entah apa orang seperti itu ada. Yahh, kalaupun memang ada, aku tak akan mencium seorang teman hanya untuk bercandaan.」

Setelah ia mengatakan itu, terbayang ingatanku tentang apa yang terjadi antara diriku dan Narushima-san.

...Sungguh, apa-apaan yang ia bicarakan? Perkataannya sangat menyakitkanku.

「Ahaha. Kira-kira apa yang akan terjadi jika kita ciuman? Yahh, tadi itu aku hanya bercanda. Jangan terlalu dianggap serius.」

Padahal kau bilang kau tidak ingin tumbuh dewasa, tapi apa yang baru saja kau lakukan adalah meniru orang dewasa."

Kupikir Asagiri-san bertingkah sangat aneh hari ini, tapi entah kenapa aku tahu alasannya.

Aku yakin ini karena sekarang musim gugur dan saat ini udara mulai dingin.

Dan karena dia sendirian hari ini, seperti aku.

Dia mungkin sedikit pemalu dan ingin terhubung dengan seseorang.

「Hei, sepertinya sementara waktu kita akan terus begini sepulang sekolah. Maukah kau pergi ke suatu tempat besok?」

......................................

Saat aku kembali ke apartemenku, Narushima-san tiba di waktu yang hampir bersamaan.

「Chiwassu! Aku di sini untuk membuat makan malam lagi hari ini!」

Seperti biasa, dia sangat berbeda dengan ketika sekolah, semangatnya sangat besar, sebesar dadanya.

Dia masih memakai seragamnya. Sepertinya dia membawa kantong plastik berisi bahan-bahan, dan dia mampir ke supermarket terdekat dalam perjalanan pulang dari sekolah kemudian langsung datang ke apartemenku.

Kemudian dia seenaknya masuk ke kamarku, mengambil celemek dibelakang blazerku, dan pergi ke dapur untuk mulai memasak.

「Daging sapi murah hari ini, jadi aku akan membuat nikujaga. Bukan Mick Jagger dari Stones, oke?  tapi nikujaga?」

「candaaanmu sangat membosankani, dan selain itu, aku tidak mengenalnya.」

「Sial, kurasa kita tidak bisa ngobrol tentang musik. Aku dan Koga-kun benar-benar seperti api dan minyak.」

「Maksudmu Air dan minyak? Soalnya Api dan minyak agak cocok.」

「...muha」

「Jangan senang.」

Omong-ngomong, biaya bahan dibagi dua. Tentu saja, karena ia yang membuat, aku membayar lebih banyak.

「Bagaimana dengan bandnya?」

Sebenarnya, aku malu untuk mengatakan bahwa aku datang untuk mengintipnya hari ini.

「Yeah, sejauh ini baik-baik saja. Aku ingin Koga-kun mendengarkan lagu itu secepat mungkin.」

Dia mengatakan itu sambil dengan cekatan mengupas kulit kentang dengan pisau dapur.

Gara-gara salah satu lagu yang paling berkesan bagiku, "Guno Aoiro" dari Tsuki to Herodias, dia berusaha keras untuk bergabung dengan band Seiran agar aku bisa mendengar lagu itu dalam penampilan band. Padahal dia tidak pandai bermain di depan banyak orang.

Terkadang kau itu penakut, tetapi sebenarnya kau itu pemberani kan, Narushima-san?

「Bukankah suara vokalis bass, Tokiwa-kun sangat bagus? Anu, vokalis Tsuki to Herodias itu perempuan, kan? Tapi suara nyanyian Tokiwa sangat enak didengar. Ditambah lagi permainan bass nya yang sangat bagus. Kurasa dia akan populer~」

Dan bagian terburukya adalah, aku merasa sedikit cemburu dengan laki-laki yang baru saja dipuji oleh Narushima-san.

Kupikir aku sangat kekanak-kanakan, dan bagian diriku yang itu harus segera kubuang.

「Ah, jangan-jangan, barusan Koga-kun cemburu?」

Narushima-san menoleh padaku dan menyeringai. Aku sangat takut karena ia masih memegang pisau dapur.

「...Tidak juga.」

「Ufufu. Kalau begitu aku senang.」

「Sudah kubilang bukan begitu.」

Tentu saja sebenarnya aku merasa cemburu, tapi itu harus kurahasiakan.

「Tak masalah. Lagipula Tokiwa-kun sudah punya pacar, dan seluruh diriku hanya milik Koga-kun. Ufufu, padahal awalnya Koga-kun sangat membenci hal ini, tapi sekarang ini sangat aneh.」

...Sebenarnya memang begitu. Akupun merasa ini aneh. Mengapa aku dan Narushima-san...

Narushima-san kembali ke dapur dengan suasana yang bagus.

「Kemudian tentang Seiran-kun. Aku pernah bilang kan kalau kebanyakan drummer itu amatiran? Ternyata dia hanya bermain santai. Kemudian ketika aku mengatakan Blast Beat, dia memukul drum "dadada" dan keluarlah permainannya yang sebenarnya. Dan dia sangat lihai bermain. Kurasa itu akan populer~」

Entah apakah ia mengatakan "tendon" dengan maksud bercanda, tapi ia kembali mengakhiri kalimatnya dengan perkataan yang sama.

Jadi saat itu aku mengeluarkan candaan jahat secara spontan dari mulutku.

「...Narushima-san, ketika kau membicarakan tentang Seiran, itu terasa sangat nyata, ya...」

Kemudian dia mengatakan 「Bwahh」 sambil berbalik dengan kencang.

「Bu-bukan begitu. Maaf. Sungguh, maafkan aku. Aku terlalu terbawa suasana. A-aku, sungguh, hanya mencintai, Koga-kunsaja.... Kumohon... Percayalah...」

Dengan bibir yang gemetaran dan air mata di matanya, dia mengatakan itu dengan wajah yang ketakutan.

Sebenarnya aku tak menyangka ia akan bereaksi seperti ini, hingga akhirnya aku merasa tak enak padanya.

「Tidak, akupun minta maaf... Tadi aku terlalu menjahilimu. Dan juga, aku takut dengan pisau dapur yang masih kau pegang itu.」

「Ya...」

Narushima-san menyeka air matanya kemudian kembali ke dapur.

...Apa yang baru saja kulakukan? Bukankah aku yang mencoba mmembuat Narushima-san merasa bahwa aku hanya teman biasa baginya? Bukankah aku juga yang memutuskan untuk tidak pacaran dengannya?

Meski begitu, rasa cemburu seperti ini──Perasaan yang muncul ini semua salahmu.

「Karena si raja perjaka sudah mengerjaiku, aku akan meremas tanganmu nanti. Jika kau tak mau, aku akan memaksamu.」

Meski air matanya masih mengalir, sepertinya ia sudah kembali ke Narushima-san yang biasanya. Aku sedikit lega.

Tentu saja aku tak mau jika dia meremas tanganku, tapi sepertinya aku akan menerima saja.

「Jadi, kembali ke topik awal. Pada akhirnya, yang paling parah adalah perminan gitarku.」

Narushima-san sudah selesai mengupas kentang dan sekarang ia sedang memotongnya diatas talenan.

「Tsuki to Herodias adalah band duo, tapi mereka memiliki anggota pendukung. Ada dua gitaris dalam lagu asli "Gunjo". Tapi klub musik ringan kami saat ini hanya beranggotakan tiga orang dan hanya aku sebagai gitarisnya. Jadi aku perlu membuat beberapa pengaturan tambahan.」

「Oh, ternyata lagu itu menggunakan dua gitar?」

Aku tak begitu paham mengenai musik, jadi aku mendengarkannya tanpa mengetahui hal tersebut.

「Aku juga harus ikut latihan paduan suara untuk penampilan kelas. Jadi untuk sementara waktu, aku akan selalu terlambat untuk memasak makan malam.」

「Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Lagipula aku────」

Aku bukan dalam posisi orang yang pantas menerima hal itu. Aku baru saja ingin mengatakannya. Tapi kurasa itu sangatlah buruk, jadi kutahan saja.

「Tapi, aku ingin makan malam bersama Koga-kun. Jadi aku akan berusaha untuk pulang secepat mungkin. Aku akan meneleponmu jika aku akan benar-benar pulang terlambat.」

「Sudah kubilang kau tak perlu mengkhawatirkan itu. Lagipula besok mungkin aku,」

Lagi-lagi, aku keceplosan.

Apa tak masalah jika aku mengatakan hal ini?

「Apa besok kau sudah ada rencana?」

Narushima-san mengatakan itu tanpa menoleh. Suara potongan kentangnya juga terdengar makin melambat.

Bukankah cukup aneh jika aku menyembunyikannya sekarang?

Aku berpikir begitu, jadi aku memutuskan untuk terus terang padanya.

「Besok sepulang sekolah, aku ada janji dengan Asagiri-san. Mungkin kami juga akan makan diluar.」

Suara potongan kentang terhenti.

Tapi itu hanya sesaat.

「Ah, benar juga. Saat ini aku, Seiran-kun, dan tanaka kun, semua sedang sibuk kan.」

Suara potongan kembali berlanjut. Nada bicara Narushima-san juga kembali seperti sebelumnya.

Tapi, aku masih penasaran dengan apa yang terjadi sesaat lalu.

「...Anu, apa tak masalah?」

「Apanya?」

「Anu, yaa, tentang aku akan pergi berdua dengan Asagiri-san.」

「Ah, memangnya kenapa, Koga-kun? Bukankah hal biasa jika kau pergi keluar dengan teman?」

「Iya, benar sih...」

Aku menyukai Asagiri-san beberapa waktu lalu, dan Narushima-san mengetahui hal itu.

Tentu saja, aku tak merasa bersalah sedikitpun. 

Tapi karena sikapnya seperti tadi, tentu saja aku penasaran. Dan juga, sepertinya suara pisau dapur sudah benar-benar berhenti saat ini.

「Kau tak perlu mengkhawatirkanku.」

Seakan-akan dia sudah membaca apa yang ada dalam hatiku.

「Lagipula akan jadi aneh jika kau menolaknya, kan? Karena Hinoko-chan yang mengajakmu.」

「Yahh, begitulah...」

「Kalau begitu, nikmatilah waktumu. Dengan begitu, aku bisa berlatih dengan tenang.」

Narushima-san yang daritadi terus berbicara, tiba-tiba terhening.

Akupun tak tahu harus mengatakan apa.

Ruangan itu hanya terisi oleh suara Narushima-san yangs sedang memasak dengan tenang.

「...Terimakasih sudah mengkhawatirkanku... Aku sangat senang.」

Dia mengatakan itu dengan suara yang sangat pelan.




0

Post a Comment